March 11

Berjuta Keseruan di #BloggerDay2019

Masih segar di ingatan, bahwa biasanya gaung #BloggerDay masih terasa di dua minggu setelah acara berlangsung. Hal ini pula yang terjadi dengan saya, setelah beberapa minggu kemarin berkutat dengan kesibukan di sekolah yang padat. Akhirnya bisa luang dan menuliskan kenangan manis dengan kawan-kawan baru para blogger yang biasanya hanya saya sapa lewat dunia maya.

Tahun ini komunitas BloggerCrony berulang tahun yang ke 4. Untuk memeriahkan hari jadinya, maka komunitas ini mengadakan acara #Bloggerday yang tahun ini diselenggarakan di Kota Bandung.   Acara yang diadakan selama dua hari tersebut diadakan pada hari Sabtu dan Minggu, 2 s.d. 3 Maret 2019. Dengan agenda hari pertama yaitu day out di Indoor Theme Park Trans Studio Bandung dan hari kedua diadakan di Crowne Plaza Bandung. Tak kurang 100 blogger yang berasal dari kota Bandung sendiri, Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur juga Madura!

Puji syukur saya terpilih untuk hadir di acara ini. Di hari pertama setelah registrasi sekitar pukul 13.00, dan foto bareng saya pun mulai menjelajahi tempat yang dianugerahi sebagai “Destinasi Wisata Terbaik Kota Bandung 2018” dan salah satu indoor theme park terbesar di dunia. Beragam wahana dapat kita nikmati. Wahana-wahana tersebut terletak pada 3 Zona yaitu Zona Studio Central yang bertema gemerlap dunia layar lebar dimana didalamnya terdapat berbagai wahana yang cukup menguji adrenalin seperti Racing Coaster, Pemburu Badai, Vertigo dan Giant Swing. Selanjutnya ada Zona Lost City yang bertema pedalaman hutan Amazon dengan wahana Jelajah dan Pirate Ship yang bisa dinaiki untuk mengelilingi area Trans Studio Bandung dari ketinggian. Terakhir ada Zona Magic Corner dimana terdapat wahana Dunia Lain dan pengunjung anak-anak bisa merasakan suasana penuh magis serta bisa bermain di area Softplay Captain Black Heart Ship. Juga selanjutnya ada 4 show besar yang tentunya harus disaksikan pada saat berkunjung ke Trans Studio Bandung. Ada pertunjukan sulap yang bertema Steam Punk di Trans City Theater berjudul “It’s Magic”. Lalu ada juga pertunjukkan sirkus yang berjudul “BEDROCK Circus”. Juga ada sajian action “Special Effect Action” Terakhir ada parade lampion mengajak para pengunjung untuk melihat ke dalam dunia Zoo Crew yang penuh keajaiban.

Sebagai urang Bandung, tentu wajib dong untuk main di sini. Tak bosan rasanya untuk memacu adrenalin di wahana-wahana yang saya sebutkan di atas. Namun kali ini agak berbeda, saya malah ingin lebih santai dan menikmati kebersamaan dengan teman-teman blogger yang baru saya temui. Selain itu ada 1 wahana yang dari dulu ingin saya kunjungi yaitu Ocean World. Akhirnya, saya memisahkan diri dari rombongan 99 kawan blogger yang lain dan mengunjungi wahana yang saya idamkan. Whoa, dunia maritim Indonesia seakan menyambut saya. Satu demi satu informasi tentang kelautan saya dapat. Akhirnya, saya pun mendapat banyak informasi mengenai salah satu ikan predator yaitu hiu!

Sebagai informasi, harga tiket masuk Trans Studio Bandung dibanderol dengan harga Rp. 180,000 untuk hari Senin – Kamis, Rp. 200,000 untuk hari Jumat dan Rp. 280,000 untuk hari Sabtu dan Minggu serta hari ibur nasional. Harga tersebut sudah termasuk bermain di semua wahana dan menyaksikan semua pertunjukan. Sedangkan jam operasional Trans Studio Bandung adalah jam 10.00 – 18.00 untuk hari Senin – Jumat dan jam 10.00 – 19.00 untuk akhir pekan dan hari libur nasional. Yuk, rayakan keceriaan harimu di Trans Studio Bandung, ssstt… ada promonya lhoo di sini.

Di hari kedua, kamipun mengunjungi Crowne Plaza Bandung. Sebagai hotel bintang lima di Bandung dan bagian dari InterContinental Hotel Group (IHG), kami dimanjakan dengan beragam fasilitas. “We’re All Business, Mostly” sebagai slogan Crowne Plaza di seluruh dunia, yang memiliki arti bahwa Crowne Plaza sebagai brand hotel bisnis tidak hanya fokus pada fasilitas dan pelayanan business traveler tapi juga mendukung fasilitas rekreasi dan lifestyle.

Terletak di pusat kota Bandung, cukup berjalan 5-10 menit, kamu akan dapat menemukan jalan paling bersejarah di Bandung seperti Jalan Braga, Jalan Asia Afrika dan Jalan Merdeka yang terkenal dengan kuliner dan kehidupan malamnya. Crowne Plaza Bandung cocok untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan, seperti convention, pameran, gala dinner, serta resepsi pernikahan.  Di acara Bloggerday 2019 kami menggunakan salah satu fasilitas pendukung dari Crowne Plaza yaitu Lembong Meeting Room.  Acara gathering pun berjalan lancar offline maupun online karena ketersediaan WiFi yang memadai

Sedikit review, Hotel bintang lima di pusat kota Bandung ini menawarkan 270 kamar tamu eksklusif dengan 8 jenis tipe kamar yang cocok untuk menjadi akomodasi dengan berbagai kebutuhan. Jenis-jenis kamar tersebut adalah Deluxe Room, Club Room, Premier Club, Junior Suite, Executive Suite, Grand Suite, Family Suite, dan Pajajaran Suite, dengan jangkauan harga mulai dari Rp.1.400.000++. Fasilitas pendukung juga dirancang untuk berbagai acara-acara khusus seperti convention, pameran, gala dinner, serta resepsi pernikahan yang indah, dengan menggunakan ruangan-ruangan komprehensif seperti: Braga Ballroom, Dago Meeting Room, Pasteur Meeting Room, Lembong Meeting Room, dan Business Center. Didukung fasilitas pendukung  mulai dari Swimming Pool, Health Club, Kids Club, Spa Uluwatu Bali, Mosaic All Day Dining, Connexions Lobby Lounge dan Mountain View Poolside Bar.  Saya sempat ngiler dengan hidangan bebek di Mountain View. Duh, serasa dimanja luar biasa ketika habis berenang lalu lahap menikmati beragam hidangan yang disajikan di sana.

Sebagai hotel bintang lima di kota Bandung, sudah selayaknya kita mengapresiasi kehadiran hotel ini dengan beragam gathering. Tentunya, hal ini dapat menyatukan silaturahim dan  relasi semakin akrab. Termasuk dengan kawan-kawan blogger yang sudah saya anggap sebagai saudara seperjuangan. Acara #BloggerDay dimulai dengan coffeebreak yang luar biasa hangat. Kami berkumpul bercengkrama di temani beragam makanan ringan dan buah segar. Tak lupa minuman hangat berupa kopi yang digiling saat itu juga.  Tertarik? Yuk hubungi alamat di bawah ini

Crowne Plaza Bandung

Jl Lembong No 19, Bandung

Telp : 022 – 30002500

Email : rsvn.bdocp@ihg.com

Web : www.bandung.crowneplaza.com 

Acara demi acara pun bergulir. Tiba saatnya stress management workshop bersama dr. David Budi Wartono dari Lineation. Berangkat dari nama DF Clinic sejak 2008, kini bertransformasi menjadi Lineation Aesthetic & Health Care pada tahun 2017. Tak hanya bertransfomasi, klinik di bawah naungan dr. Dave dengan mengusung konsep nuansa Korea ini menambah banyak layanan yang tentu menjawab kebutuhan masyarakat di masa kini dan masa mendatang, mulai dari layanan kesehatan umum, gigi, apotek, fisioterapi, akupunktur, layanan kecantikan seperti skin care, botox, filler, thread lift hingga bedah plastik, layanan untuk ibu dan anak, layanan salon seperti make up, bridal dan hair treatment, medical check up lengkap, hingga layanan stress management.

Bicara tentang stress management, di acara #BloggerDay, saya pun mendapat wawasan baru tentang berdamai dengan diri sendiri. Kebanyakan dari kita, kemungkinan besar abai terhadap hal ini. Saya pun dibuat eling dengan hal tersebut. Dr. Dave juga mengajak kita semua untuk selalu happy dan terus bersyukur. Ada hal yang menarik dari sesi tersebut. Adalah terapi bars atau transfer energy positive yang saya rasakan sedikit banyak mengubah sudut pandang saya terhadap hidup.

Terletak di Jl. Leumah Nendeut No.10, Sarijadi, Bandung, 5 menit dari gerbang tol Pasteur, Lineation memiliki peluang baik dan lokasi yang strategis untuk dapat dijangkau oleh masyarakat. Keberagaman layanan yang dimiliki membuat masyarakat tak perlu lagi mencari klinik lengkap untuk memenuhi kebutuhan akan kesehatan dan kecantikan, baik dari luar maupun dalam.  Happy-Healthy-Beauty, slogan yang diusung Lineation menjadi dasar untuk terus bertransformasi. Informasi mengenai berbagai layanan terpadu di Lineation Aesthetic & Health Care dapat melalui website di www.lineation.id, instagram melalui @lineation.id, atau melalui telepon di 0812-2190-6850.

Rangkaian acara pun dilanjut dengan seminar kepenulisan bersama Anwari Natari yang kami sebut Bang Away. Di sini kami belajar menulis cepat termasuk dalam brainstroming atau menemukan inti tulisan dengan gaya bercerita atau pun a la copywriting. Keseruan demi keseruan bergulir acara yang didukung oleh  Blue Bird Group, Bolu Susu Lembang, Raka FM dan Sonora FM, AHRA Reflexology by Nest, Bimas Islam Kemenag RI, BloggerPreneur Bloggercrony Community, Blogger Bandung, Endeus TV dan tentu saja BCC Squad bersama para pengurus komunitas Bloggercrony Network (BCN) dan BCN Executive (pengurus harian BCC) ini menyisakan kenangan manis yang sulit terlupa. Alhamdulillah…

January 9

Soto Ento: Kelezatan Tersembunyi di Sudut Jalan Braga

Liburan tentu dinanti setiap orang yang mempunyai rutinitas. Rehat sejenak dan menikmati suasana baru tentu jadi yang dicari. Terjadi juga dengan saya yang sehari-hari mengajar di sekolah. Jadwal pun manut anak sekolahan. Mau pergi jauh ke luar negeri, kok, ya tiketnya mahal menggila. Ya, sudah di dalam kota saja. Bandung adalah rumah sekaligus tempat liburan tahun ini. Yuk, habiskan hari terakhir liburan di Bandung. Destinasi utama: Jalan Braga! Lalu, makan di mana kita?

Jalan Braga, jalan intelék
Tidak boleh masuk kéréték
Bécak, roda, bémo, honda jalanna muter…

Demikian lirik lagu jadul milik Ceu Hetty Koes Endang berjudul Jalan Braga. Tentu anda pernah mendengar nama jalan ini. Bagi yang belum begitu akrab, Braga adalah nama jalan di Kota Bandung dengan sederet toko tua dan batu andesit sebagai pengganti aspalnya. Bicara Jalan Braga yang akhir-akhir ini sering disiram hujan lalu panas, kemudian suhu mendingin, cocok rasanya menyatap hidangan hangat berkuah. Hmm… Bakso? Ah, udah biasa. Bagaimana kalau soto Bandung?

Tersebutlah satu soto klasik di Jalan Braga. Soto Ento namanya. Berbekal alamat dari seorang seniman, humanist dan pemilik restoran The Goodlife, Sari Asih, di hari terakhir liburan kantor penulis coba menelusurinya. Ternyata letaknya cukup tersembunyi di sudut gang, di sebrang gedung tua, Laandmark, Jalan Braga, Soto Ento mulai dijajakan tahun 1950an. Di tangan Pak Ento, racikan sotonya membuat warga Jalan Braga tergila-gila. Termasuk para pegawai kantor pemerintahan Kota Bandung yang sering makan siang di sana. Bayangkanlah Jalan Braga jaman dulu dengan mobil klasik, deretan toko peninggalan kolonial dan semangkuk hangat nasi soto Pak Ento. Gadis manis berkebaya-konde-berpayung ‘geulis’, membawa rantang tempat soto untuk dimakan di rumah. Pemandangan tersebut lumrah pada jamannya hingga Pak Ento berpulang tahun 1988.

Lorong gelap itu pun akhirnya habis juga, ada ibu paruh baya duduk di depan warung soto tersebut. Ternyata ibu yang belakangan mengenalkan diri dengan nama Bu Nining itu adalah putri penerus soto Ento. “Wah, dulu kala kami bisa masak 20 kilogram daging sapi, sekarang paling hanya 5 kilogram saja,” kenang Bu Nining. Setengah tak percaya sambil duduk di bangku panjang khas warung, penulis mencium harum dari jaman dulu yang sepertinya kaya bumbu namun tetap ringan. “Jadi dulu kami buka di King’s Shopping Centre, namun kami jadi tidak bisa mengontrol rasa, karena lain tangan yang memasak,” sambung Bu Nining sambil menyiapkan soto di warung berukuran 5×5 meter itu. “Tutup, lalu King’s kebakaran dan akhirnya hanya punya tempat di sini.” pungkas Bu Nining sambil menyodorkan semangkuk soto dengan nasi plus kerupuk aci dan prekedel kentang. Penulis meraih pula botol sambal, kecap dan jeruk nipis yang bisa kita tambahkan mana suka. Enak!

Menilik hidangan yang satu ini, soto terdapat hampir di setiap kota di Indonesia. Ada beragam nama, rasa dan cara pembuatannya. Lalu apa yang membedakan soto Bandung dengan soto-soto lainnya? Tampaknya ada di bahan. Bahan utama dari soto Bandung adalah daging sapi dan lobak. Kacang kedelai, bawang goreng, tak lupa seledri. Kesemuanya berpadu di kuah berkaldu sapi. Tanpa kunyit, santan atau susu skim seperti soto-soto lainnya. Mengutip Felipe Fernández Arnesto bahwa makanan adalah hal yang mudah disebarluaskan dan ditiru, tak mustahil hidangan seperti soto sudah ada jauh dari saat soto Ento dan soto-soto lain di Nusantara mulai populer. Tercatat dalam kronik Tiongkok dan India, pada abad ke lima masehi para pedagang Nusantara sudah menguasai perniagaan bebumbuan yang digunakan dalam soto-soto di Indonesia. Menurut praktisi kuliner Venny Soetrisno, kata soto berasal dari Bahasa Canton—caudo atau tsháu-tōo yang berarti babat. Hidangan sup dengan babat ini terkenal di Semarang diantara imigran-imigran Tionghoa pada abad ke 17.

Sambil mengguyur kerupuk aci dengan kuah soto, penulis jadi ingat penuturan seorang baker, traveller dan ‘tukang makan’ Karina Waksman, “Ada juga soto Bandung ‘Trisari’ di Jln. Cimanuk itu langganan kakek saya dari jaman dulu, satu lagi ada soto kuno namanya Soto Po di Jln. Rama, ada juga soto yang baru di Cibadak, bukanya sore hari, namanya Soto Banjir. Ngantri banget! ” Ujar ibu gaul yang kami panggil Bi Karin ini.

Tak terasa semangkuk Soto Ento, habis tandas. Liburan hari terakhir di Jalan Braga berakhir sudah. Masih banyak potongan kenangan yang tertutup debu waktu, masih banyak pula soto yang sama tuanya dengan Soto Ento, salah satunya Soto Ojolali yang konon lahir di tahun 1939. Kita bisa menikmati gurih soto Bandung bukan dengan prekedel kentang, namun diramu potongan jeroan goreng menggugah selera. Jadi penasaran, kan? Hayu, atuh, mampir di Bandung. Kita makan siang sama-sama di sana, ya?

Alamat:

Soto Pak Ento
Jl. Braga, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat 40111 (022) 4236458 https://g.co/kgs/FjJi3i

RM Trisari
Jl. Cimanuk No.20, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115 (022) 7273620 https://g.co/kgs/3bqv82

Soto Po
Jl. Rama No.14, Arjuna, Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40172 https://g.co/kgs/Py2WeC

Soto Ojolali
Jl. Cibadak No.79-81, Karanganyar, Astanaanyar,
Kota Bandung, Jawa Barat 40241 https://g.co/kgs/6jKhEd

January 1

Dendang Sekerat Dendeng Paru (Part 2)

Sepertinya hari itu tak berjodoh untuk membuat dendeng paru. Arah pulang ke parkiran sudah ditempuh, saat kami berpapasan dengan seorang Mamang yang sedang mengerik bulu kaki sapi sambil ia menunjukan satu tempat lebih ke arah dalam pasar. “Tempat Haji Asep.” Ujarnya pendek, tak begitu yakin apakah ada paru hari itu. Kami pun segera menuju toko daging yang dimaksud. Bukan kepalang senangnya, terdapat karkas sapi yang baru saja disembelih berjajar dengan, jeroan, lemak, dan harta karun yang kami cari!

Sambil Mamih memilih paru yang akan dibeli, saya iseng tanyai pegawai toko dagingnya.  Ternyata yang disembelih bukan sapi pedaging berjenis Brahman berpunuk, yang biasa kita temui, tapi di Pangalengan hanya sapi dairy lah yang disembelih! Lebih lanjut, dengan alasan sapi Friesian yang sudah berhenti memproduksi susu yang digiring ke tempat jagal. “Rasa juga beda, Pak.” Tambah si Akang yang sedang asyik menyayat daging dari rusuknya. Saya perhatikan dari dekat, daging sapi di sana lebih empuk, ototnya tidak pejal dan ada sesamar bau susu. Oalah, misteri terpecahkan sudah! Tinggal pembuktian secara ilmiah apakah jenis sapi, pakan, fatty acid, dan perlakuan peternak memengaruhi kualitas daging? Buru-buru saya menoyor kepala sendiri. Tak mungkin daging wagyu yang empuk nan mantap itu dibuat rendang atau sampai pada tahap kalio sekali pun!

Sampai lah di rumah, langsung kami eksekusi si paru sapi. Sambil Mamih ngadongeng mengenai jenis jenis daging dan peruntukkannya diselingi dengan kisah dari jaman baheula. Satu bagian daging sapi diwakili satu kisah kehidupan keluarga kami. Bagaimana terungkap bahwa sebenarnya keluarga kami ada keturunan Jawa, Cina, Pakistan. Bagaimana Aki Amin dulu kabur dari kelompok DI/TII dan memulai hidup baru sebagai tailor di Gang Haji Sapari, Astanaanyar atau kisah si Mamah saat kenalan dengan Bapak dan kisah-kisah lain yang tak kudapatkan di hari lebaran, saat main gaple atau nyekar ke kuburan. Hari kemarin serasa menyusuri relung-relung cerita keluarga, agar kami tak lupa leluhur atau pareumeun obor. Duh, baraqallaah… Semua berawal dari dendeng paru sapi.

Paru-paru adalah organ arogan yang setiap hari menjejali kita dengan oksigen untuk hidup. Kembang kempis lobus paru-paru adalah ritme kehidupan yang konstan. Ia hadir agar kita sadar akan kekuasaan-Nya, kemudian bersyukur, memaknai dan meneruskan Laku Budaya lewat makanan. Semoga warga #FW tidak bosan, ya, itulah penelusuran saya mengenai salah satu makanan yang menyeruak dari masa kecil. Saya tilik lagi postingan nasi Padang si Cece di #FOODWAR yang selalu membangunkan nafsu makan. Comment Bi Karin, Rendi dan warga #FW lainnya sudah lumayan berhamburan, lalu saya akhiri dengan seruan: Paru for lyfe!

 

RESEP DENDENG PARU “MAMIH”

BAHAN

1 kg  paru sapi

 

BUMBU-BUMBU

½ ons ketumbar, disangrai

½ ons lengkuas

10 siung bawang putih

5 siung bawang merah

1 sendok makan air asam Jawa

gula merah secukupnya

gula putih secukupnya

 

HOW TO

Haluskan bumbu, paru disasal (diiris tipis), disatukan dengan bumbu, diamkan ¼ jam, lalu dijemur, setelah kering dapat disimpan di wadah kedap udara. Untuk digoreng: panaskan minyak, setelah minyak panas, kecilkan api, masukkan paru, setelah agak atau ¾ matang, angkat, karena proses masak pun masih berlanjut setelah paru diangkat. Note: Jangan biarkan dendeng digoreng di api sampai kering,  kerana sudah pasti akan hangus bin tutung! Siapkan nasi pulen hangat ngebul ngebul dan sambal tomat. Tambahkan paru goreng yang renyah tur gurih dan hap!

Dendeng paru goreng dengan nasi hangat. Lezat!

–SELESAI–

January 1

Dendang Sekerat Dendeng Paru (Part 1)

Saya selalu percaya jika Semesta itu berbahasa. Kode-Nya ada di mana  saja. Paling gampang lewat pelbagai gejala alam atau, kalau cermat, dapat lewat sekelebat jam di handphone, plat kendaraan, atau apapun yang setiap hari kita temui. Makanan contohnya. Maka, ketika Syusei Blu mendedah nasi Padang,  itulah kali pertama di Group #FOODWAR di Facebook saya lihat sekerat paru goreng di piringnya. Serta-merta ingatan saya tertuju pada Mamih dan makanan dari masa kecil yakni dendeng paru sapi!

Mamih, sebutan untuk nenek saya, yang jago meraciknya. Tempaan masa kolonial Belanda, kependudukan Jepang dan saat sekolah Kepandaian Putri di Balonggede – Bandoengsche membuatnya terampil meracik bahan makanan menjadi hidangan lezat. Kembali ke dendeng paru (kéré bayah, dalam Bahasa Sunda), adalah sangat penting menurutnya untuk memilih bahan yang terbaik. Bahan inti paru-paru sapi, haruslah didapat dari Pangalengan, kampung leluhur kami, yang ia percaya jadi rahasia empuk dan gurih dendeng buatannya. Hayu, lah, kita mudik (untuk kedua kalinya tahun ini) milemburan, mumpung Mamih sedang sehat. Kemarin, kami pun bangun dini hari. “Harus subuh, karena paru biasanya sudah dicarter restoran. Satu sapi paling hanya mempunyai beberapa kilo paru saja!” ujar Mamih. Lalu, berkendaralah kita ke sana. Sambil saya tetap bertanya kenapa harus belanja bahan dendeng di kampung, di Pangalengan?

Dataran tinggi Pangalengan, sayur mayur tumbuh subur termasuk rumput gajah pakan sapi Friesland

Omong punya omong, Kecamatan Pangalengan adalah dataran tinggi di selatan Kabupaten Bandung yang berada pada ketinggian ±1.447 DPL. Di samping sektor formal, kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai peladang, pekerja kebun teh, dan peternak. Sapi adalah hewan ternak yang umum di sana. Adalah sapi-sapi berjenis Holsten Friesian yang sekarang pada merumput di tanah Pangalengan yang sejuk. Sapi Friesian yang berbulu hitam-putih itu diimpor dari Friesland, Belanda tahun 1903 oleh Louis Hirschland dan Van Ziln untuk diambil susunya. 1  Susu sapi pun sudah menjadi industri tersendiri. Setua ini, saya sudah cicip susu sapi dari berbagai tempat. Namun, entah kenapa, susu sapi Pangalengan terasa lebih berkenan. Ia gurih, agak manis dan menyegarkan. Selebihnya, Toean dan Njonja boleh coba juga olahan susu sapi yang lezat lainnya; ada permen caramel, keripik, dodol, atau keju. Sejak tahun 1960-an pengelolaan susu sapi dipegang oleh KPBS (Koperasi Peternakan Bandung Selatan).

Mamih berfoto di depan Gedung KPBS

 

Adalah tempat jajanan dan produk-produk KPBS dijual termasuk susu segar dan aneka makanan berat

Setelah sesubuhan di atas roda pada jalanan berkelok, sampailah kami di Pasar Pangalengan. Hawa cukup dingin, namun pasar sudah hangat dengan transaksi jual beli. Mamih, di usianya yang senja, masih terampil menyusuri labirin pasar yang sudah ia hafal. “Mamih!” “Teteh!”  “Bu Haji!” Beberapa pedagang menyapa Mamih. Nampaknya mereka sudah lama saling kenal. Mamih bertegur sapa sebentar lalu melanjutkan tujuan kami ke arah los dedagingan. Satu-satunya tujuan kami yaitu toko daging Haji Yani yang sudah jadi langganan berpuluh tahun lalu. Maksudnya tentu saja menjemput paru segar untuk bahan dendeng, karena tidak semua toko daging menjualnya. “Tutup, Bu. Baru dua minggu ke depan buka lagi, anaknya Haji menikah di Jakarta.” kata tukang daging ayam.

Mendapati toko Haji Yani masih tutup, kami bukan nyengir sapi, tapi nyengir kuda!  –BERSAMBUNG–

December 31

Pelayanan Tak Bertepi Para Pejuang KBA Bhakti Jaya

Cikal bakal

Depok Timur—tak sebegitu jauh dari Ibukota Indonesia, Kota Jakarta, kawasan urban yang berkembang serta pemukiman modern, Depok Timur memiliki tempat dengan lingkungan hijau penuh semangat. Adalah Ketua RW 16 Komplek Bhakti Jaya, Pak Sumarno, serta nyaris delapan puluh persen kepala keluarga berstatus lansia yang memiliki keterampilan bercocok tanam, serta koordinasi yang mumpuni dalam membawa kampungnya mendapat status bergengsi sebagai Kampung Berseri Astra.

Namun demikian, jauh sebelum gaya hidup sehat serta pembangunan berkelanjutan berlangsung di tempat tersebut, Komplek Bhakti Jaya atau lebih dikenal dengan Perumnas Depok 2, pada tahun 1970an adalah sebidang lahan gersang tanpa tumbuhan peneduh dan suplai air yang cukup. Tersebutlah pemuda Sumarno, seorang berwatak keras dari Jawa Tengah yang mencoba mengibarkan namanya di tempat baru tersebut. Selama beberapa dekade, Sumarno terlibat dalam percaturan di tempat tinggalnya. Warga dari Jalan Saminten, kerap kali terlibat bentrokan dengan peduduk Jalan Jelutung. Sumarno dan yang lain, yang sekarang telah berstatus lansia, berusaha untuk mengubah kondisi ini.

Pak Sumarno dan Tim

Pak Sumarno di awal usia enam puluhnya adalah seorang pensiunan analis Departemen Kesehatan RI, ia pun terbiasa melongok kondisi kesehatan dan problematika dari berbagai tempat yang ia kunjungi termasuk kampungnya sendiri. “Saya pernah menginvestigasi kasus virus Zika di Jambi, demam berdarah dan chikungunya,” ia mengenang. Suatu saat, 14 warganya terserang demam berdarah. “Terus terang saya marah,” ujarnya, “Saya coba untuk menelusuri hal tersebut,” ia menambahkan. Terungkaplah, ternyata ibu-ibu yang mendapat tugas sebagai Jumantik (Juru Pemantau Jentik) bekerja kurang efektif. Namun sekarang kondisi telah berubah menjadi lebih baik. Kita tidak akan menemukan kondisi kering-kerontang dan masalah kemisikinan. Ketika pemimpin berniat untuk berubah tentu orang  di sekitarnya juga turut menyesuaikan. “Kami telah mengubah metode Jumantik di RW kita, sehingga ibu-ibu akan menginspeksi warga RT lain, bukan RTnya sendiri,” kenangnya. “Di sinilah rumah kita, tentu tidak dilarang untuk bermimpi yang tinggi, namun kita perlu cara cerdas dan pintar dalam mengubah keadaan,” Pak Sumarno, Sang Pemimpin, berujar dengan serius.

Berbicara tentang Tim Penggerak PKK di Kampung Berseri Astra ini, tidak bisa dilepaskan dari sosok Ibu Dwi Hastuti atau lebih dikenal dengan Bu Har. Di usianya yang ke 67 ia merupakan sosok yang penuh semangat. Langsing dan enerjik (ia kenal hampir semua penduduk RW 16!), Bu Har menganggap Tim Penggerak PKK, juga Posyandu dan Posbindu sebagai rumah keduanya. “Mari saya kenalkan dengan bapak-bapak ini” ujarnya sambil tergelak. Seterusnya ia mengenalkan Pak Boedi Widodo (68 tahun) dan Pak Sidik Sofyan (69 tahun). Beliau tersebut adalah beberapa senior di lingkungan RW 16. Pak Widodo pernah menjadi staf laboratorium di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) dan terlihat segar bugar juga bersemangat. Ia kerap berolahraga lari dan masih pergi ke mesjid di sekitar rumahnya. Sedangkan Pak Sidik, setelah menjadi pensiunan ia tidak memmpunyai kegiatan yang berarti selain merawat cucunya. Setelah itu, Bu Har memotivasinya untuk mempunyai kesibukan tambahan. “Sekarang saya mengumpulkan shuttlecock bekas dan barang bekas lainnya. Lalu saya mengubahnya menjadi kerajinan ondel-ondel. Semoga saja orang-orang bisa mengapresiasi karya saya,” Pak Sidik berharap. Sebagai contoh di kalangan ibu-ibu, Bu Har berharap bahwa para lansia sepertinya bisa memiliki hobi atau aktivitas di lingkungan mereka. “Dikelilingi orang-orang membuat saya bersemangat, saya pun jadi percaya diri!” tukas Bu Har. Semangat inilah yang ia coba sebarkan pada para pensiunan yang lain, sebagaimana ia pernah menjabat sebagai kepala sekolah, di lingkungan KBA Bhakti Jaya

 

KBA dan kita

Di lahan seluas 4,45 hektar dan terdiri dari 500 lebih kepala keluarga ini masih berjuang dan memertahankan perannya sebagai tempat nyaman yang layak tinggal. Para penduduk menanam tumbuhan hias, TOGA (tanaman obat keluarga), dan TABULAMPOT (tanaman buah dalam pot) di sepanjang gang yang mereka tinggali. Contohnya saja, para penduduk menanam Gynura procumbens atau tanaman sambung nyawa dan Moringa oleifera atau lebih dikenal dengan kelor yang beberapanya warga gunakan untuk membuat tepung sarat gizi atau superfood. Hal-hal inilah yang mengantarkan RW 16 sebagai lingkungan hijau terbaik di Depok pada tahun 2010 dan 2011 yang lalu. Lalu pada akhirnya pada tahun 2014, terima kasih tak terkira pada PT. Astra International, Tbk. yang membawa tempat ini ke jenjang yang lebih tinggi sebagai Kampung Berseri Astra. Sebagaimana warga mengemban gelar KBA, hal tersebut turut meningkatkan kesadaran mereka.  

Lebih jauh, program CSR ini mengenalkan empat pilar fundamental yaitu: pendidikan, kewirausahaan, lingkungan dan kesehatan. Walaupun hujan badai, namun berkat pilar-pilar tersebut, bersama mereka menciptakan lingkungan yang cerdas cendikia untuk para penduduk. Contohnya pada pilar pendidikan, tak kurang tiga puluh tiga beasiswa, yang disebut Beasiswa Lestari Astra, dianugerahkan pada anak-anak yang membutuhkan di lingkungan RW 16. Beasiswa tersebut meliputi biaya pendidikan dasar, menengah, hingga universitas negeri. Sedangkan untuk pilar kewirausahaan, Astra menyediakan workshop makanan dan kerajinan tangan. Puluhan papan himbauan, tong-tong air juga gapura dihadiahkan untuk pilar lingkungan. Sementara hal tersebut telah dilaksanakan, sekelompok kakek dan nenek tengah bersemangat berlatih gerakan Tai-Chi sebagaimana Astra menganugerahkan pilar kesehatan pada mereka!

Pada tanggal 27 Desember 2018 yang lalu, Walikota Depok, Mohammad Idris Abdul Shomad, mewakili Kementerian Lingkungan Hidup, menganugrahkan RW 16 sebagai kampung dengan kesadaran tinggi akan perubahan iklim. Pejabat terkait tersebut, sambil  berseloroh, bertanya apakah Pak Sumarno siap menjabat sebagai ketua RW abadi. Kendati jawabannya adalah ya atau tidak, tentu saja ini ciri bahwa sosok ini dan tim Kampung Berseri Astra Bhakti Jaya telah menjalankan hal yang penuh manfaat! Adalah kerja tim dari PT. Astra International Tbk., Pak Sumarno, Bu Har juga semua anggota KBA Bhakti Jaya. Mereka berharap sinergi dalam membangun lingkungan-kemasyarakatan ini dapat bertahan lama. Sebagaimana Bu Har berujar “Saya sangat mengharapkan program ini (beasiswa), akan terus lestari.” Hal ini menyiratkan bahwa apa yang telah Astra sumbangsihkan pada mereka sangatlah tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia telah memantik nyala api untuk hidup yang lebih baik di masa depan pada generasi muda dan lansia.

Trend harapan hidup dan menua bahagia

Secara global, jumlah generasi senior atau lansia (berusia 60 tahun hingga lebih) tengah berkembang secara pesat dibandingkan kelompok umur di bawah mereka. Pada tahun 2017 saja, terdapat 962 juta lansia di seluruh dunia. Dipersentasekan sebanyak 13 persen dari populasi dunia adalah senior berusia 60 dan lebih. Populasi ini tumbuh sejumlah tiga persen per tahun. Pertumbuhan ini juga akan terus berlangsung pada tahun 2030 dan 2050. Pada puncak tahun-tahun tersebut, satu per empat  jumlah warga di seluruh benua, kecuali Afrika, adalah para lansia. Diramalkan kita akan memiliki 1,4 milyar lansia di tahun 2030 dan 2,1 milyar di tahun 2050. Menurut gambaran umum dari PBB, pada tahun 2100, diprakirakan bahwa penduduk dengan umur 80 tahun atau lebih akan meningkat drastis menjadi 909 juta, hampir tujuh kalinya di jumlah tahun 2017!

Sangatlah bijaksana apabila kita menilik kaum lansia sebagai agen perubahan. Dianya mempunyai peran dalam pengembangan masyarakat. Hal ini juga akan berlangsung apabila kita mengubah sudut pandang tentang usia lanjut sebagai waktu untuk menjadi lemah, tidak berjaya dan penuh penyakit, menjadi penuh wibawa, rasa hormat, dan bahagia. Adalah tugas kita semua untuk menjadikan lansia di lingkungan kita agar tetap aktif dan memiliki semangat hidup yang tinggi. Jikalau mereka dapat hidup dengan bahagia dan bermakna, mereka dapat berbakti pada masyarakatnya.

Sebagaimana Mahatma Gandhi pernah berujar bahwa, “Kekuatan tidak berdasar pada kapasitas fisik,” apa yang telah dicontohkan warga senior di RW 16 dan Tim Kampung Berseri Astra sangat memperkuat bahwa mereka masih dapat melakukan perubahan. Pencapaian dan penghargaan masih bermekaran di KBA ini. Sulit rasanya membayangkan KBA Bhakti Jaya tanpa mereka, sebagaimana mereka penting karena lama dan panjangnya pengalaman hidup juga kebijaksaan yang telah mereka peroleh. Sebagaimana mereka tidak akan hidup selamanya, apakah kita siap mewarisi semangat mereka? •

 

Lebih lanjut dapat disimak kegiatan KBA Bhakti Jaya pada laman di bawah ini:

https://www.instagram.com/kba_depok/

December 30

Endless Services of KBA Bhakti Jaya’s Warriors

The beginning

East Depok—just a few miles away from the Capital of Indonesia, Jakarta, yet a growing urban area and modern upbringing has a place with green and lively neighbourhood. It is Komplek Bhakti Jaya’s chief of RW 16, Pak Sumarno, and other almost eighty percent elders that have green thumbs yet good coordination in bringing it as place deserving its pinnacle reputation as Astra’s caring kampong, Kampung Berseri Astra (KBA).

However, long before green living style or sustainable development happened in that area, Komplek Bhakti Jaya or Perumnas Depok 2 we might say, once in 1970’s, was an empty dry residence with no trees nor adequate water supply—there was young Sumarno, a rebel guy from Central Java who tried to establish his baronial position in that newly built place. Through that decade, Sumarno had been involved in building ‘reign’ there. People of Jalan Saminten, place that he used to live, often had local conflicts with Jalan Jelutung’s fellow and Sumarno with the others, now they are seniors, were having scrap and struggle to change.

Pak Sumarno and the Team

Pak Sumarno, now in his early sixty, is a pensionary researcher from Indonesia Ministry of Health so he is able to portray health situation in various places he has visited to his kampong. “I observed the Zika virus cases in Jambi, dengue fever, and chikungunya,” he reflected. Once, 14 of his people got the fever. “I was furious,” he gushed, “I tried to have investigation toward my people,” he added. It is eventually exposed that ladies who got the task of checking mosquito larvae (PKK’s Jumantik Team) had performed rather ineffective jobs. Nowadays, things have changed into better direction. We will not find any harsh conditions and adverse issue there. He wished to make a change and so the people around him would too. “We had changed the system toward Jumantik group in our RW, we do the cross-check so the ladies are going to inspect other residents’ blocks (RT),” he remembered. “Here is our home, it is not prohibited for having dreams, but we need bright and clever ways to make better condition,” Pak Sumarno, chief of the place, told assertively.

Speaking of PKK team in this Astra’s kampong, it is undeniable for not having mentioned Ibu Dwi Hastuti or widely known as Bu Har. In her 67 years old she appears in remarkably vibrant shape and vibe. Thin, lean, and energetic (she knows almost all RW 16 members!), she credits the PKK as well as children’s healthy monitoring (POSYANDU) and seniors’ healthy monitoring (POSBINDU) as her second homes. “Let me introduce you to these guys,” she chuckled. Later on, she acknowledged Pak Boedi Widodo (68) and Pak Sidik Sofyan (69 years old). They are two elders from the seniors at the neighbourhood. Pak Widodo used to be a male nurse at the Army’s Hospital (RSPAD) and got very fit physical appearance and full of spirit. He loves jogging around and goes to local mosque. As for Pak Sidik, after being a pensioner he has no significant activities besides taking care of his grandchildren. Then, Bu Har encourages him for having things to do. “Initially, I collected used shuttlecocks and other junks. I turned them into ondel-ondel (Betawi’s puppet). Hopefully, people will love my work,” Pak Sidik hoped. A role-model around the ladies, Bu Har inspires that seniors need to have hobby, or activities in their community. “Being around the people energizes me, I have good confidence!” Bu Har exclaimed. This spirit she tries to affect toward another pensioner, as she used to be a school principal, in KBA Bhakti Jaya.

The KBA and us

The 10.6 acres land that consists of more than 500 heads of household is still thriving and maintaining its role to be a liveable place. Residents plant aesthetics, medicinal and fruits plants along the alleys there. For instance, they grow Gynura procumbens sometimes called longevity spinach and Moringa oleifera or simply known as kelor which the resident sells for superfood powder. This brought RW 16 as best green neighbourhood in Depok back in 2010 and 2011. Thanks to PT. Astra International, Tbk, in year 2014, as the company brought the kampong to a higher scale as Kampung Berseri Astra. As people embrace the KBA name, it has also increased people’s awareness.

Furthermore, the CSR program introduced four fundamental pillars: education, entrepreneur, environment, and health. Times were tough, but with these pillars, together they create a sustainable witty atmosphere in the residences. For instance in education pillar, thirty three scholarships called Beasiswa Lestari Astra were awarded to needy RW 16 children. It covers their education fee until state university. As for entrepreneur pillar, Astra provides culinary and handicraft workshops. Numerous environment signage, water barrels and gate were gifted as little present in favour of environmental project. While that happened, group of grandmas and grandpas were happy practicing Chinese’s Tai-Chi moves as Astra provide them with Health pillars!

In last 27th of December 2018, Major of Depok, Mohammad Idris Abdul Shomad, gave an award regarding RW 16 as kampong that has excellent awareness of climate change from provincial government (Kampung pro Iklim). The man in charge asked Pak Sumarno lightly whether he was ready of taking the job as RW head forever. Whether the answer is yes or no, surely, this man and The KBA team have done something right! It is always a constant team work of PT. Astra International, Tbk’s Team, Pak Sumarno, Bu Har and all members of KBA Bhakti Jaya. Rain or shine, they hope this good gesture in building the community is going to thrive everlastingly. As Bu Har gasped on one of the education pillar’s program, “I feel very hopeful this program (scholarship) will be lestari or endless.” It can be inferred that what Astra has arranged for this community really can’t be ignored. It sparks life for better future of younger and elder generation.

Trends and ageing gracefully      

Globally, elder generation (aged 60 or over) is currently growing faster than the rest of age groups or younger generation. In 2017, 962 million people aged 60 or more around the globe. It is corresponded 13 percent of the world’s global population were seniors aged 60 and more. This seniors’ population is growing about three percent per year. Rapid ageing will happen again in 2030 and 2050. In that period all regions around the globe except Africa will have approximately a quarter or more of the populations at age 60 or more. We will have 1.4 billion seniors in 2030 and 2.1 billion in 2050 correspondently. Based on the UN’s prediction by year 2100 it is expected that seniors aged 80 and more will increase drastically to 909 million, closely seven times its 2017’s figure!

It is wise enough to see senior citizens as development agents. They have abilities to act for theirs and societies’ betterment. It will likely to happen if we change traditional stereotype of old age as time of fragility, desolation and soreness to affluence, respect and happiness. It is our concern for having our senior member of society remain active and posses full energy of life. If they live happily and in content, they can create a meaningful life for their community.

As Mahatma Gandhi once said, “Strength does not come from physical capacity,” what the senior citizens in RW 16 have done strongly confirms that they are still able to make changes. Attainments and achievements still blossom from this kampong. It is difficult today to imagine The KBA Bhakti Jaya without them, as they are important due to long accumulated know-hows, experience, and wisdom. As they will not live forever, are we ready to inherit their spirit? •

See further about KBA Bhakti Jaya’s activities on the link below:

https://www.instagram.com/kba_depok/

July 27

Siapkan Siswa Siap Industri 4.0

Siswa kita dapat diibaratkan bunga hortensia (Hydrangea atau kembang borondong dalam Bahasa Sunda). Ia tak lebih indah dari kembang sepatu, kemboja atau lamtoro tetapi, karena sifatnya yang bergerombol dalam satu tangkai, membuat ia tampak indah dan berbeda. Perumpamaan tersebut dapat diibaratkan siswa kita. Mereka dapat bermakna apabila memiliki sifat guyub, berfikir kritis, terampil membagi waktu, terbuka akan perubahan. Namun, tetap merujuk pada satu tangkai yaitu sifat keindonesiaan. Untuk mewujudkannya, beragam tantangan menghadang kita. Salah satunya negara kita dewasa ini tengah menghadapi tantangan persiapan generasi industri 4.0. Bulan ini, Komisi VI DPR RI menyetujui usulan tambahan anggaran Kementerian Perindustrian sebesar Rp2,57 triliun untuk menindaklanjuti agenda nasional  Making Indonesia 4.0. Siapkah kita?

Industri 4.0 adalah tahapan terkini dari optimalisasi segala daya dan upaya manusia dalam jejaring bisnis dan entrepreneur untuk menjawab segala permintaan dan kebutuhan masyarakat. Dalam industri ini, siswa kita dituntut untuk terampil  memanfaatkan teknologi internet, cetak tiga dimensi, analisis data, robotika dan kecerdasan buatan. Mau tidak mau, akan bermunculan beragam profesi yang sebelumnya belum diperhitungkan. Konsultan Media Sosial, Programmer dan pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi lainnya akan mendapat porsi yang banyak di masa depan setelah posisi di bidang kesehatan dan perpajakan. Perlu diingat, kita telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean yang sedapat pula kita memaknainya seperti bilah pisau yang dapat berguna sekaligus berbahaya. Positifnya, jangkauan karier siswa kita meluas, namun apabila kita tidak mempersiapkan SDM yang baik dan menggenjot mutu dan kualitas pembelajaran, tentu siswa kita nantinya akan tersisih oleh tenaga kerja asing.

Di Negeri Sakura sana terdapat konsep budaya bernama Wa yang berarti Harmoni. Warga masyarakat yang menganut prinsip hidup ini diharapkan menjunjung tinggi persatuan, kompromi dalam grup masyarakat, serta mengesampingkan kepentingan pribadi. Konsep ini merupakan ruh dari kompaknya masyarakat Jepang secara umum. Karena dikenalkan dari sejak kecil di keluarga, maka ketika terjun di masyarakat dan lingkungan kerja, kebanyakan orang Jepang akan malu ketika berperilaku di luar dari keharmonisasi komunal. Sebagai contoh , dalam lingkungan kerja di Jepang, bonus dan penghargaan tidak diberikan secara perseorangan tapi dalam bentuk kelompok. Hal tersebut dapat kita terapkan pada siswa kita sedini mungkin. Dengan perilaku siswa kita yang begitu adaptif terhadap teknologi, hal tersebut adalah modal yang sangat berharga dalam penguasaan salah satu syarat industri 4.0 yakni pemanfaatan internet. Berilah mereka motivasi untuk selalu bertanya akan fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari. Dampingi mereka dalam proses pencarian jawabannya agar mereka terampil dan seimbang membagi waktu di dunia maya dan nyata. Setelah mereka pandai membagi waktu, mereka dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan produktifitas dalam bentuk karya nyata (artikel, analisis, projek ilmiah dsb).

Akhirnya, ketika konsep Wa dan berfikir kritis tersebut diaplikasikan secara massal maka terciptalah semangat produktifitas dan kolaborasi yang harmonis. Sehingga tujuan menciptakan generasi siap mengarungi industri 4.0 ini bukan angan-angan hampa belaka. Meminjam pendapat guru bangsa B.J. Habibie, untuk menyaingi negara lain generasi kita bukan lagi harus berlari tetapi melompat. Begitu pentingnya perubahan ini menunggu untuk diwujudkan. Semoga kita sebagai tenaga pendidik tidak abai dalam menangkap tantangan ini. Dibutuhkan keluwesan pola pikir untuk mengenal karakter  dan potensi siswa, serta memanfaatkan waktu kita untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sehingga kita bisa bisa menjadi teladan dalam memberikan pilihan-pilihan yang dapat siswa kita lakukan di masa depan.

Egia Arga Varhana, S. Hum., Guru Bahasa Inggris, Cambridge Teacher Support – SMA Pribadi Bandung Bilingual Boarding School

July 7

Recommended Application (Day 3)

LiveSlides adds Chrome browser capabilities to PowerPoint, but removes the look and feel of a browser window. The result is that you can browse web content within your presentation, without too many tell-tale Chrome trappings ruining the look of your slides. This is me when presenting it. Sorry for bad sound quality.

To do this we use a placeholder image that alerts LiveSlides to the presence of web content on your slide, so that when the slide is full-screen, your web content loads automatically, ready to amaze everyone. For this reason, it’s important not to interfere with the placeholder image by layering other words, images, or logos on top of it. Get the program here.