July 27

Siapkan Siswa Siap Industri 4.0

Siswa kita dapat diibaratkan bunga hortensia (Hydrangea atau kembang borondong dalam Bahasa Sunda). Ia tak lebih indah dari kembang sepatu, kemboja atau lamtoro tetapi, karena sifatnya yang bergerombol dalam satu tangkai, membuat ia tampak indah dan berbeda. Perumpamaan tersebut dapat diibaratkan siswa kita. Mereka dapat bermakna apabila memiliki sifat guyub, berfikir kritis, terampil membagi waktu, terbuka akan perubahan. Namun, tetap merujuk pada satu tangkai yaitu sifat keindonesiaan. Untuk mewujudkannya, beragam tantangan menghadang kita. Salah satunya negara kita dewasa ini tengah menghadapi tantangan persiapan generasi industri 4.0. Bulan ini, Komisi VI DPR RI menyetujui usulan tambahan anggaran Kementerian Perindustrian sebesar Rp2,57 triliun untuk menindaklanjuti agenda nasional  Making Indonesia 4.0. Siapkah kita?

Industri 4.0 adalah tahapan terkini dari optimalisasi segala daya dan upaya manusia dalam jejaring bisnis dan entrepreneur untuk menjawab segala permintaan dan kebutuhan masyarakat. Dalam industri ini, siswa kita dituntut untuk terampil  memanfaatkan teknologi internet, cetak tiga dimensi, analisis data, robotika dan kecerdasan buatan. Mau tidak mau, akan bermunculan beragam profesi yang sebelumnya belum diperhitungkan. Konsultan Media Sosial, Programmer dan pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi lainnya akan mendapat porsi yang banyak di masa depan setelah posisi di bidang kesehatan dan perpajakan. Perlu diingat, kita telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean yang sedapat pula kita memaknainya seperti bilah pisau yang dapat berguna sekaligus berbahaya. Positifnya, jangkauan karier siswa kita meluas, namun apabila kita tidak mempersiapkan SDM yang baik dan menggenjot mutu dan kualitas pembelajaran, tentu siswa kita nantinya akan tersisih oleh tenaga kerja asing.

Di Negeri Sakura sana terdapat konsep budaya bernama Wa yang berarti Harmoni. Warga masyarakat yang menganut prinsip hidup ini diharapkan menjunjung tinggi persatuan, kompromi dalam grup masyarakat, serta mengesampingkan kepentingan pribadi. Konsep ini merupakan ruh dari kompaknya masyarakat Jepang secara umum. Karena dikenalkan dari sejak kecil di keluarga, maka ketika terjun di masyarakat dan lingkungan kerja, kebanyakan orang Jepang akan malu ketika berperilaku di luar dari keharmonisasi komunal. Sebagai contoh , dalam lingkungan kerja di Jepang, bonus dan penghargaan tidak diberikan secara perseorangan tapi dalam bentuk kelompok. Hal tersebut dapat kita terapkan pada siswa kita sedini mungkin. Dengan perilaku siswa kita yang begitu adaptif terhadap teknologi, hal tersebut adalah modal yang sangat berharga dalam penguasaan salah satu syarat industri 4.0 yakni pemanfaatan internet. Berilah mereka motivasi untuk selalu bertanya akan fenomena-fenomena yang terjadi sehari-hari. Dampingi mereka dalam proses pencarian jawabannya agar mereka terampil dan seimbang membagi waktu di dunia maya dan nyata. Setelah mereka pandai membagi waktu, mereka dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan produktifitas dalam bentuk karya nyata (artikel, analisis, projek ilmiah dsb).

Akhirnya, ketika konsep Wa dan berfikir kritis tersebut diaplikasikan secara massal maka terciptalah semangat produktifitas dan kolaborasi yang harmonis. Sehingga tujuan menciptakan generasi siap mengarungi industri 4.0 ini bukan angan-angan hampa belaka. Meminjam pendapat guru bangsa B.J. Habibie, untuk menyaingi negara lain generasi kita bukan lagi harus berlari tetapi melompat. Begitu pentingnya perubahan ini menunggu untuk diwujudkan. Semoga kita sebagai tenaga pendidik tidak abai dalam menangkap tantangan ini. Dibutuhkan keluwesan pola pikir untuk mengenal karakter  dan potensi siswa, serta memanfaatkan waktu kita untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Sehingga kita bisa bisa menjadi teladan dalam memberikan pilihan-pilihan yang dapat siswa kita lakukan di masa depan.

Egia Arga Varhana, S. Hum., Guru Bahasa Inggris, Cambridge Teacher Support – SMA Pribadi Bandung Bilingual Boarding School


Posted July 27, 2018 by renjana in category Professional Life

About the Author

I'm a teacher at a secondary school in Bandung, West Java - ID

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*